"Dilema Moral" - Apa Yang SESUNGGUHNYA Dirasakan Fans Liverpool Soal Kembalinya Liga Primer Inggris - Angka Cantik

"Dilema Moral" - Apa Yang SESUNGGUHNYA Dirasakan Fans Liverpool Soal Kembalinya Liga Primer Inggris

Dengan sepakbola Inggris menuju restart Juni, Goal berbicara kepada sejumlah pendukung The Reds untuk mengetahui pandangan mereka soal isu yang ada

Bulan ini harusnya menjadi momen perayaan bagi para suporter Liverpool.
Satu bulan selebrasi atas keberhasilan meraih trofi dengan mengadakan parade di jalan-jalan, sembari minum sedikit alkohol, bernyanyi dan tersenyum. Keceriaan dan kegembiraan yang dibagi bersama.
Itu bakal menjadi akhir penantian yang panjang. Gelar liga nomor 19 pasti terasa luar biasa setelah menanti 30 tahun lamanya.
Mereka kembali ke puncak, ke singgasana, dan the Reds siap mengatakannya kepada dunia soal itu semua.
Ini tetap masih bisa terjadi. Liverpool bakal tetap menjadi juara, bagaimana pun caranya. Mereka adalah tim terbaik di Inggris saat ini, dan jaraknya juga jauh dari pesaing-pesaingnya. Jurgen Klopp dan timnya telah memastikan tempatnya dalam sejarah klub. Tidak ada yang berubah.
Kecuali hal-hal yang di luar kemampuan.
Dengan Bundesliga yang telah kembali akhir pekan ini dan Liga Primer berusaha menggulirkan lagi kompetisi, pelan namun pasti, dengan target Juni, Goal berbicara dengan banyak suporter the Reds, untuk mengetahui pandangan mereka soal gagasan pengguliran kembali sepakbola.
Gambarannya, terutama yang ditampilkan di media sosial oleh komentator di banyak saluran, adalah kelompok suporter Liverpool dianggap egois karena tidak peduli dengan kesehatan publik, keselamatan atau integritas olahraga, tetapi dengan judul yang sulit dipahami.
Namun kenyataannya justru berbeda dari anggapan yang beredar.
Paul Machin adalah pemegang tiket musiman Anfield dan menjalankan saluran Redmen TV yang populer, yang memproduksi lebih dari 30 acara per bulan terkait Liverpool.
Dia disibukkan dengan "pertentangan moral" yang dia hadapi dan juga suporter lainnya.
"Ini benar-benar dilema," katanya. "Jika saya hanya seorang penggemar, saya akan ngotot untuk melihat sepakbola kembali. Dan sebagai pemilik bisnis, yang bisnisnya berpusat pada sepakbola, maka saya bisa memanfaatkannya.
"Tapi saya sudah melihat kenyataan dari virus ini. Kami kehilangan anggota keluarga karena itu. Saya mengalaminya sendiri pada Maret, dan saya tidak akan berharap itu terjadi pada musuh saya. Ini mengerikan.
"Selain itu, istri saya adalah seorang guru, dan dia bersiap untuk kembali bekerja dalam beberapa minggu ke depan, tidak tahu pasti bahwa apakah itu aman.
"Dengan semua itu, sangat sulit untuk merasionalisasi sesuatunya dan hanya memikirkan sepakbola."
Kekhawatiran Machin beralasan. Di Merseyside, hampir 1.000 orang telah meninggal setelah dites positif Covid-19, sementara ada hampir 5.000 kasus tercatat di seluruh wilayah tersebut.
Pada Senin pekan lalu, Steve Rotheram, walikota metro untuk Wilayah Kota Liverpool, menyatakan bahwa pelonggaran lockdown pemerintah Inggris mungkin datang terlalu cepat, sementara keputusan untuk memperbolehkan pertandingan terakhir Liverpool, kekalahan mereka di Liga Champions dari Atletico Madrid pada 11 Maret, yang dihadiri lebih dari 52.000 suporter di Anfield, adalah salah satu peristiwa yang sampai saat ini masih dalam penyelidikan.
Rotheram, juga suporter Liverpool, termasuk di antara mereka yang menyerukan investigasi independen.
"Saya ingat berada di luar setelah pertandingan itu, dan mengetahui itu adalah pertandingan terakhir, malam terakhir kami untuk sementara waktu," kata Neil Atkinson, dari podcast pemenang penghargaan The Anfield Wrap.
“Bahkan sebelum pertandingan, banyak orang merasa punya pertentangan batin. Mereka tidak yakin harus pergi. Mereka tahu ada yang tidak beres. Itu [mengadakan pertandingan] adalah keputusan yang mengejutkan.”
Atkinson melanjutkan bahwa ia menolak gagasan yang diutarakan oleh beberapa pihak - termasuk Joe Anderson, walikota Liverpool yang mendukung Everton – untuk mengizinkan sepakbola kembali digelar karena itu dikhawatirkan akan mendorong suporter untuk mengabaikan social distancing dengan berkumpul di sekitar stadion.
"Minggu lalu, kami melihat orang melakukan hal itu sebagai bagian dari perayaan Hari VE," katanya. “Kami telah melihat orang-orang melakukannya di taman, di pantai, bahkan di jembatan Westminster. Mereka ada di berita nasional! Semua orang melihat mereka!
“Kekhawatiran bahwa beberapa orang mungkin melanggar aturan itu benar-benar valid. Tetapi untuk mengategorikan ‘beberapa orang penggemar sepak bola’ akan kembali melakukan itu adalah tipikal cara banyak orang memandang suporter bola. Sudah sama sejak tahun 1950-an, kesan yang dimiliki orang banyak tentang suporter hanya mengamuk.
"Apakah kita mengatakan bahwa ribuan orang akan muncul di Anfield, padahal mereka tidak dapat melihat pertandingan, di mana mereka tidak dapat minum karena pub tutup, di mana mereka akan mempertaruhkan kesehatan mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka, dan di mana mereka berpotensi merusak reputasi klub sepakbola mereka sendiri?
“Sejumlah kecil orang mungkin, tetapi sejumlah kecil orang akan melakukan segalanya untuk melanggar aturan. Kami telah melihat sejumlah kecil orang melakukannya, bahkan itu tayang langsung di berita. Saya yakin tidak semua dari mereka memiliki tiket musiman Liga Primer!"
Pemegang tiket musiman Reds lainnya yang ingin tetap anonim setuju dengan pendapat itu.
“Saya pikir, secara umum, orang-orang telah menunjukkan kesabaran dan pengertian yang luar biasa, mengingat keadaan ini,” katanya. "Mereka tidak bertemu orang tua mereka, teman-teman mereka, pasangan mereka dan anak-anak mereka dalam beberapa kasus.
“Orang-orang belum dapat menghadiri pemakaman, mereka telah meninggalkan pesta ulang tahun orang yang mereka cintai. Mereka telah melakukan semua yang mereka bisa untuk membantu melindungi orang, dan kemudian Anda membuat orang-orang seperti Joe Anderson yang menyebut mereka hanya akan meninggalkan semua itu karena sepakbola lebih penting. Itu penghinaan, tidak hanya untuk penggemar Liverpool tetapi untuk orang-orang pada umumnya."
Anfield, tentunya, tidak akan dihadiri suporter untuk beberapa waktu mendatang. Hari-hari di mana The Kop penuh sesak, suporter berseragam merah yang tampak dari jauh akan dirindukan. Kita mungkin akan memiliki pertandingan tanpa penonton setidaknya sampai 2021, dan bisa saja lebih lama.
"Pasti ada emosi campur aduk tentang itu," kata John Howard, pemegang tiket musiman Liverpool.
"Saya tak sabar untuk kembali memiliki sepakbola dalam hidup saya. Saya tidak berpikir Anda menghargai seberapa besar perannya, dalam kehidupan sehari-hari, sampai akhirnya itu tidak ada. Anda membutuhkan sesuatu dalam hidup Anda yang membuat darah Anda terpacu, dan itu telah diambil dari banyak orang.
“Tetapi, bagi saya, sepakbola adalah olahraga sosial, acara sosial, dan saya tidak tahu berapa banyak kegembiraan yang diambil karena tidak bisa berada di stadion, atau bahkan menonton pertandingan dengan teman dan keluarga. Itu tidak sama, kan?"
Paul Machin dari The Redmen TV setuju.
"Untuk itulah pelarian saya ke sepakbola," katanya. “Saya suka gairah, saya suka berada di tengah orang banyak. Tidak ada yang bisa seperti itu.
“Kenangan sepakbola terbaik saya adalah saat-saat random merayakan dengan orang asing di samping saya, berbagi pengalaman. Itu yang saya cari.
"Jadi, untuk menghilangkan perasaan itu, itu adalah hal yang sangat besar. Sepakbola akan kembali tetapi sayangnya tidak akan sebaik itu."
Dan bagaimana dengan debat moral, soal begitu banyaknya waktu dan sumber daya yang dicurahkan untuk sepakbola yang dianggap banyak orang, terasa salah untuk digulirkan karena di belakangnya ada banyak kematian, penyakit, dan ketidakpastian di seluruh dunia? Bagaimana kita bisa berbicara tentang sepakbola, kata mereka, ketika ada banyak hal tak terduga yang terjadi?
“Saya mengerti,” kata Neil Atkinson, “tetapi kita berbicara tentang dunia yang mencoba kembali ke normalitas, dan bagi banyak orang itu termasuk kembalinya sepakbola.
“Itu adalah bagian besar dari banyak kehidupan orang. Haruskah kita tidak berbicara tentang Raja Harimau? Atau album baru Dua Lipa? Bagaimana kita bisa berbicara tentang televisi dan musik pada saat seperti ini?
“Tentu saja kita bisa, sama seperti kita yang dapat berbicara tentang olahraga, atau film, atau apa pun yang membuat hidup menjadi normal.
“Olahraga lebih dari sekadar apa yang terjadi di lapangan. Itu adalah bagian dari kehidupan. Itu penting bagi orang-orang. Saya menggunakan liga rugby sebagai contoh; Saya tidak berpikir cukup banyak orang berbicara tentang apa yang terjadi di sana. Seluruh komunitas berada di ambang kehancuran. Apakah itu tidak penting? Apakah itu tidak layak dibicarakan?"
Salah satu argumen yang dikemukakan oleh mereka yang ingin melihat kembalinya sepakbola adalah gagasan "meningkatkan moral bangsa", bahwa itu tidak hanya akan memberikan sesuatu untuk ditonton di televisi tetapi juga sarana pengalihan, dan demi membebaskan orang dari kepenatan sehari-hari.
Tapi banyak yang tidak setuju.
"Saya tidak peduli tentang moral bangsa," kata pemain pinjaman Newcastle United Danny Rose pekan ini, sementara orang-orang seperti Todd Cantwell, Raheem Sterling, Sergio Aguero dan Tyrone Mings telah menyatakan keraguan serupa soal kembalinya sepakbola. Keselamatan pemain, sudah sepantasnya, menjadi agenda utama selama pembicaraan antara Liga Primer, klub-klubnya dan mitra siarannya.
Sementara bagi Liverpool, jika sepakbola dilanjutkan, pekerjaan mereka relatif sederhana - mereka membutuhkan enam poin dari sembilan pertandingan untuk dinobatkan sebagai juara - di tempat lainnya ada jauh lebih banyak ketidakpastian. Khususnya menyangkut promosi dan degradasi, di mana dampak finansialnya sangat besar.
Itu lantas menyebabkan tuduhan kepentingan pribadi, ketika klub dan pendukung berdebat soal sepakat atau tidaknya sepakbola dimulai kembali.
Penggemar Liverpool dianggap sebagai orang yang egois, dingin dan tidak peduli, terobsesi dengan hanya satu tujuan: gelar ke-19, sementara mereka yang lebih rendah di liga adalah tukang sabotase demi menyelamatkan diri mereka sendiri.
Setiap orang memiliki pendapat mereka – juga biasnya.
"Siapa pun yang merasa memiliki pendapat netral tentang hal ini, dia ‘halu’," kata Paul Machin. “Setiap orang memiliki kepentingan, dan posisi setiap orang dimotivasi oleh minat mereka sendiri.
“Bagi penggemar Liverpool, apakah kami mau mengakuinya atau tidak, memiliki bias untuk mengakhiri musim dengan alasan yang jelas. Yang lain tidak, karena alasan yang juga jelas."

Pendukung Everton termasuk di antara mereka yang punya sedikit alasan untuk mendorong agar sepakbola dimulai kembali. The Toffees berada di urutan ke-12 ketika musim ditangguhkan, dibayangi sedikit bahaya degradasi, sudah keluar dari Piala FA dan tidak mungkin untuk menantang tempat Eropa.
Tapi bagaimana penggemar mereka menyikapinya? Apakah mereka mengejar normalitas, sesuatu yang dinanti-nantikan di masa krisis ini, atau apakah mereka lebih suka melihat Liverpool gagal meraih gelar liga di lapangan?
"Itu tidak terlalu mengusik saya," kata Gareth Halsall, pemegang tiket musiman Goodison Park. "Tentu, saya akan menggoda dan melemparkan candaan, memberi tahu mereka bahwa mereka belum benar-benar memenangkannya, tetapi ketika sebuah tim berada jauh di depan, semua orang tahu mereka yang terbaik, bukan begitu? Anda tidak dapat berdebat dengan Liverpool yang layak juara.
“Bagi saya, masalah seputar memulai kembali kompetisi bukanlah tentang apakah Liverpool mendapatkan gelar, itu masalah kesehatan dan logistik. Apakah pemain ingin bermain? Bisakah keamanan mereka dijamin? Itulah pertanyaannya, dan itu belum dijawab."
Pemegang tiket reguler Goodison lainnya, Tony Scott, menegaskan bahwa musim ini tidak boleh dilanjutkan. Scott adalah bagian dari All Together Now, podcast mingguan Everton, dan memberi tahu Goal bahwa ide untuk melanjutkan kompetisi di stadion netral "tidak bisa dibenarkan."
“Saya suka sepakbola,” katanya. “Saya sangat merindukannya, itu yang saya tahu dalam hidupku. Tetapi bagaimana mungkin itu bisa kembali sekarang? Saya sendiri tidak bisa bertemu keponakan saya, saudara laki-laki saya, ayah saya atau ibu saya, tetapi 22 pemain dapat berlari mengelilingi lapangan sepakbola bersama-sama? Itu tidak terasa benar, bukan begitu?
"Saya tidak berpikir itu adil atau benar bahwa musim dimulai kembali pada saat ini."
Matt Ladson, dari laman This is Anfield, menawarkan sudut pandang alternatif.
"Apa yang harus Anda ingat adalah bahwa dalam waktu beberapa minggu, dunia akan terlihat sedikit berbeda dari sekarang," katanya.
“Kebanyakan orang yang memiliki pekerjaan akan kembali bekerja dalam kapasitas tertentu pada 12 Juni, saya ingin mengatakan, mengapa pesepakbola tidak bisa menjadi bagian dari itu?
“Argumen utama saya tentang masalah keamanan adalah bahwa jika Anda seorang pemain bola, Anda hanya berhubungan dengan orang-orang yang telah dites. Itu adalah lingkungan yang lebih aman daripada yang akan dihadapi banyak orang di masyarakat.”
Ladson percaya Liverpool akan menjadi juara, dengan satu atau lain cara, tetapi mengakui bahwa kemenangan The Reds, setelah tiga dekade bermimpi, akan terasa hampa.
"Kitaan berbohong jika mengatakan sebaliknya," lanjutnya. “Ini adalah anti-klimaks bukan hanya untuk para pendukung, tetapi juga untuk Jurgen Klopp dan para pemainnya. Anda bersimpati dengan mereka.
“Kita semua memimpikan bagaimana kemenangan liga ini akan terjadi, dan bagaimana kita semua merayakannya - kita bahkan sudah merencanakannya! - tapi sekarang kita tidak bisa. Ini mengecewakan.
"Tapi ada gambaran yang lebih besar untuk dipikirkan. Dan siapa tahu, mungkin itu bisa mendorong tim itu untuk lebih sukses di masa depan.
"Bisa bayangkan itu? Perayaan ganda tahun depan untuk nomor gelar liga ke-20. Kembali ke puncak singgasana. Itu bagus, bukan?"

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.